Post Format

Eksplorasi Lembah Harau (Part II: Edisi Sumatera Barat)

4 comments

Jujur, saya sebelum ini sempat sedikit meremehkan Sumatera Barat sebagai destinasi wisata di Indonesia. Tapi ternyata, perjalanan 5 hari ini membuka mata saya. Ini, adalah lanjutan cerita saya bersepeda mengelilingi Sumatera Barat. Setelah sebelumnya tentang Kelok 44, berikutnya adalah cerita dari Lembah Harau.

LEMBAH HARAU

Setelah beristirahat selama 1 malam di Kota Bukittinggi yang terkenal dengan jam gadangnya, kami kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Saya sempatkan bangun pagi-pagi sekali untuk berkeliling sekitar kota dengan berjalan kaki. Udara pagi di Bukittinggi ini mengingatkan saya kepada Bandung. Menyenangkan sekali untuk berjalan-jalan sambil melihat Jam Gadang yang konon mesinnya cuma ada 2 di dunia, yang dipakainya dan yang ada di dalam mesin Big Ben London. Berdiri di depan Jam Gadang, curi-curi saya berdoa dalam hati, semoga suatu hari bisa melihat saudaranya di London.

Jam Gadang di Bukittinggi

Jam Gadang di Bukittinggi

Sekitar jam 10 pagi kami memulai perjalanan menuju timur dari Kota Bukittinggi, tepatnya menuju Lembah Harau. This was my favorite road trip. Jalan menuju Lembah Harau dipenuhi dengan warna hijau dari hamparan sawah-sawah di kiri dan kanan jalan. Saya tergerak untuk menurunkan kaca mobil dan merasakan udara sejuk menampar muka. Senyum-senyum sendiri saya. Norak. Wajar saja, di Jakarta susah sekali untuk melakukan ini. Yang ada malah hidung penuh dengan asap.

Anyway, sekitar jam 1 siang akhirnya kami tiba di Echo Homestay Lembah Harau, tempat kami akan menginap malam ini. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kami jatuh cinta dengan homestay ini. Berkonsep resort sederhana dengan bangunan dari kayu (beberapa bahkan berdesain Minang), Echo Homestay ini dikelilingi tebing-tebing granit tinggi yang di beberapa bagian diselimuti oleh rumput-rumput liar yang hijau. Sederhana memang, tapi bagaimana tempat ini begitu harmonis dengan alam sekitar yang membuat kami merasa nyaman dan senang. Apalagi ditambah dengan harga yang tidak terlalu mahal yaitu mulai dari Rp. 400,000 untuk 3 orang per malamnya.

Harau Echo Homestay

Harau Echo Homestay

Ada yang unik ketika di Lembah Harau ini. Kami disuguhi “Kopi Kawa”, minuman dari daun kopi yang diseduh seperti teh. Penyajiannya pun sedikit berbeda, yaitu menggunakan batok kelapa yang dibelah. Ternyata belakangan saya tau kalau kopi kawa ini telah populer sejak jaman penjajahan Belanda dulu, dimana pada saat musim panen kopi datang seluruh petani diharuskan menyetor hasil panen biji kopi kepada Belanda. Menggunakan prinsip tak ada rotan akar pun jadi, masyarakat petani Minangkabau kemudian menghangatkan badan dengan cara berbeda, tidak dari bijinya melainkan dari daun kopi yang telah terlebih dahulu dikeringkan. Warna dan aromanya cukup mirip dengan kopi, namun terasa lebih manis.

Seakan membaca pikiran saya, tidak lama kemudian seorang staf hotel membawa sepiring gorengan untuk kami nikmati bersama kopi kawa. Ah, bahagia itu sederhana memang. Another tight, tight, tight moment!

Jam 3 sore, kami bersiap untuk kembali bersepeda menyusuri Lembah Harau. Kata masyarakat setempat, ada air terjun kecil diujung desa, sekitar 1-1.5 jam bersepeda dari homestay. Sounds like a perfect plan! Bersepeda di Harau cocok untuk berbagai kalangan pencinta sepeda, yang suka road bike bisa menikmati jalanan mulus sepanjang desa yang dikelilingi swah hijau sepanjang mata memandang. Sedangkan yang suka mountain bike (MTB), bisa meneruskan perjalanan hingga ujung desa dimana kondisi jalan berubah menjadi tanah bebatuan, bahkan sampai harus menyebrangi sungai kecil. Seru!

Pamer Sepeda di Harau

Pamer Sepeda di Harau

Sesuai rencana, perjalanan kami sore itu berakhir dengan mandi-mandian di air terjun kecil yang ada di ujung desa. Airnya segar sekali. Kalau diingat-ingat, sore itu saya dan teman-teman girang sekali ketemu air terjun ini. Dasar anak kota.

Cerita selanjutnya: Villa Air Manis (Part III: Edisi Sumatera Barat)

Advertisements

Posted by

A nyong Maluku. I've visited 34 provinces in Indonesia. And it is amazing. See the beauty of Indonesia on my instagram page. Full time social ninja at @wego.

4 Comments Join the Conversation

  1. Pingback: Sumatera Barat: Tight Tight Tight! (Part I) | Baronda

  2. Pingback: Villa Air Manis – Believe me, You Want to Stay Here | Mad Alkatiri

  3. Pingback: Villa Air Manis Sumatera Barat | Mad Alkatiri

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s