Post Format

Sumatera Barat: Tight Tight Tight! (Part I)

4 comments

Tight! Tight! Tight! Jika anda penggemar serial Breaking Bad, anda pasti familiar dengan ekspresi Tuco Salamanca ini di season pertama. Ekspresi yang digunakannya ketika mengungkapkan sesuatu yang begitu luar biasa. Ekspresi inilah yang terus saya gunakan selama perjalanan mengelilingi Sumatera Barat. Saya merasa begitu spesial, karena ketika itu, tanah Minang memberikan begitu banyak kejutan yang menyenangkan selama 5 hari perjalanan saya bersama 9 teman mengeksplor wilayahnya.

Ini adalah tulisan pertama dari 5 tulisan tentang perjalanan saya ke Sumatera Barat.

KELOK AMPEK PULUH AMPEK

Hari masih cukup pagi ketika kami mendarat di Minangkabau International Airport. Disambut oleh local support di bandara, nampaknya persiapan kami sudah cukup mantap untuk hari pertama. Tujuan kami jelas sejak jauh-jauh hari: ingin bersepeda di Kelok 44 yang legendaris.

Kelok Ampek Puluh Ampek ini adalah tikungan berjumlah 44 belokan yang terdapat di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Bukan hal yang mudah menaklukan rute ini, karena merupakan daerah perbukitan diatas Danau Maninjau dengan kondisi jalanan menanjak dan kelokan yang memang tajam. Kelok 44 juga telah menjadi ikon dari lomba balap sepeda internasional: Tour de Singkarak. 

Karena tidak ada satupun diantara kami adalah professional cyclist, pemandu kami mengusulkan untuk mencoba rute turunan saja, jadi dari Kelok ke-44 sampai bawah. Katanya biar bisa sambil menikmati keindahan Danau Maninjau yang terlihat jelas dari setiap kelokan. Kami langsung sepakat dengan usul ini. Bagaimana tidak, melihat langsung kondisi Kelok 44 ini, saya yakin sekali sebagian besar dari kami hanya bertahan mengayuh sepeda sepanjang 3 atau 4 kelokan, jika rutenya menanjak. Paling mentok 5, dan itu pun sudah dengan ngos-ngosan berat.

Sepedaan di Kelok 44 (photo by @ernandaputra)

Setelah safety check dan briefing oleh tim pemandu, kami mulai mengayuh sepeda menurun. Hal yang sangat menyenangkan dilakukan, karena kami tidak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak untuk membuat sepeda bergerak kencang. Plus, karena ini adalah wilayah perbukitan, cuaca pun cenderung sejuk, sehingga membuat aktivitas bersepeda sangat nyaman.

Tiba di kelok ke-33, kami disuguhkan pemandangan sawah yang hijau dengan bangunan berdesain khas Minang dan Danau Maninjau di latar belakang. “Ah, ini tipikal Indonesia Barat sekali memang”, gumam saya dalam hati. Maklum, di timur, pemandangan seperti ini jarang. Ini mewah buat saya. Akhirnya, saya membiarkan diri berhenti dan memarkirkan sepeda di warung kopi kecil disitu, memesan kopi susu panas dan duduk di bangku kayunya yang pagi itu terasa nyaman sekali. Tight! Tight! Tight!

Next: Eksplorasi Lembah Harau.

Advertisements

Posted by

A nyong Maluku. I've visited 34 provinces in Indonesia. And it is amazing. See the beauty of Indonesia on my instagram page. Full time social ninja at @wego.

4 Comments Join the Conversation

  1. Pingback: Eksplorasi Lembah Harau (Part II: Edisi Sumatera Barat) | Baronda

  2. Pingback: Villa Air Manis – Believe me, You Want to Stay Here | Mad Alkatiri

  3. Pingback: Villa Air Manis Sumatera Barat | Mad Alkatiri

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s