Post Format

Mad’s Sumba Itinerary (Part I)

20 comments

Satu hal yang sangat saya suka mengenai traveling di Indonesia adalah bagaimana setiap perjalanan selalu saja memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan. Indonesia never fails to amaze me with its story. Saya sudah diberikan kesempatan untuk melihat banyak sekali destinasi-destinasi di Indonesia, namun Sumba, tanpa hentinya membuat saya speechless selama 6 hari perjalanan mengeksplor pulau ini dari barat ke timur.

Berikut adalah highlights perjalanan saya mengeksplor Sumba. Saya sengaja bagi menjadi bahasan per hari, sehingga memudahkan jika ada yang ingin mengikuti itinerary perjalanan Sumba ini.

Hari Pertama: Mengejar Sunset di Pantai Kita

Saya tiba sore itu di dengan menggunakan Garuda Indonesia Explore pada pukul 16.30 waktu setempat. Perjalanan dari Bali menuju Tambolaka di Sumba Barat memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit dengan pesawat jenis ATR-72, berkapasitas 48 penumpang. Langit begitu cerah, ternyata Oktober adalah musim kemarau di Sumba, yang membuat hampir semua pepohonan atau savanna menguning karena kering. Exotic!

Dry Season Sumba

Dry Season Sumba

Karena hari sudah cukup sore, saya bersama Dedi (supir sekaligus guide selama di Sumba) buru-buru untuk menuju Pantai Kita, yang adalah salah satu sunset spot di Sumba ini yang tidak begitu jauh dari bandara. Sepanjang jalan menuju Pantai Kita, nuansa Sumba sudah mulai sangat kerasa. Rumah-rumah semi panggung terbuat dari kayu khas Sumba terlihat di beberapa kesempatan, berbarengan juga dengan kuda-kuda yang dilepas begitu saja untuk mencari makan atau sekedar meneduh di bawah pepohonan rindang.

Matahari sudah cukup rendah ketika kami tiba di Pantai Kita, pantai yang memiliki garis pantai cukup panjang dengan pasir putih dan ombak yang cukup kencang. Sore itu terlihat cukup ramai masyarakat lokal yang jogging di area pantai atau bermain bola. Saya jadi teringat masa-masa ketika masih di Ambon dulu. Memang menyenangkan sekali menjadi anak pulau.

Sunset di Pantai Kita

Setelah matahari sepenuhnya terbenam, saya dan Dedi kemudian memulai perjalanan menuju Waikabubak, kota kecil dimana saya akan menginap selama 2 malam sambil mengeksplor wilayah Barat dan Barat Daya dari Sumba yang terkenal dengan pantai-pantainya yang luar biasa. Selama di Waikabubak ini, saya memilih menginap Pusat Kebudayaan Sumba yang dikelola oleh seorang pastor. Harganya bervariasi mulai dari Rp. 150.000 hingga Rp. 350.000

Pintu masuk Pusat Kebudayaan Sumba

Pintu masuk Pusat Kebudayaan Sumba

Untuk yang ingin berhemat dan traveling in group, bisa memilih kamar backpacker mereka dengan harga hanya Rp. 150,000 dan bisa untuk 7 orang. Sangat terjangkau sekali. Kamar ini juga dilengkapi AC dan kamar mandi di dalam.

Kamar Rp 150,000/malam (bisa untuk 7 pax)

Kamar Rp 150,000/malam (bisa untuk 7 pax)

Hari Kedua: Pantai Anameha – Pantai Weekataku – Ratenggaro – Pantai Pero – Danau Weerkuri – Pantai Mandorak

Hari yang sangat menyenangkan dan memuaskan bagi saya, yang penggemar berat pantai ini. Sumba Barat Daya memang terkenal dengan pantai-pantai berpasir putihnya yang luar biasa dan jaraknya tidak terlalu berjauhan satu sama lain. Jadi, untuk kalian yang punya waktu sedikit tapi suka pantai, rekomendasi saya adalah prioritaskan Sumba Barat Daya.

Selfie while riding buffalo on the beach!

Selfie while riding buffalo on Anameha beach!

Perjalanan pagi itu dimulai ke sebuah pantai bernama Pantai Anameha, yang berjarak sekitar 1.5 jam dari tempat saya menginap. Pantai Anameha ini bersebelahan langsung dengan Pantai Weekataku yang unik karena ada batu berbentuk candi di pantainya. Kedua pantai ini belum banyak diketahui oleh orang, jadi masih luar biasa bersih dan sepi. Ketika kami tiba disana, hanya ada anak-anak dan masyarakat lokal yang sedang memandikan kerbau peliharan mereka di laut. Yes, mereka memandikan dan memberi minum air laut ke kerbau-kerbau mereka!

Pantai Anameha, Sumba Barat Daya

Pantai Anameha, Sumba Barat Daya

Pantai Weekataku, Sumba Barat Daya

Pantai Weekataku, Sumba Barat Daya

Setelah puas bermain di pantai ini, saya kemudian berpindah ke Ratenggaro, desa adat di Sumba Barat Daya yang beach front. How cool is that? Dan pantainya pun memang pantai yang cantik dengan pasir putih dan ombak yang cocok untuk surfing. Sumba memang juga memiliki budaya yang menarik untuk dilihat. Contohnya, masih banyak desa dengan rumah adat yang actually masih digunakan hingga saat ini. Salah satu yang terkenal adalah Ratenggaro ini.

IMAG0715_1

Desa Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya

Saya menghabiskan siang hari itu di Ratenggaro dengan mengobrol bersama masyarakat lokal setempat yang memiliki cerita-cerita yang inspiratif. Dari mereka, saya tau bahwa kehidupan suku di Sumba masih memegang prinsip solidaritas yang begitu kuat, semangat gotong royong dan prinsip hidup sederhana. Anggota suku juga begitu taat kepada Kepala Suku mereka yang dianggap sebagai pemimpin tertinggi suku yang bijak dan harus dipatuhi.

IMG_2929

Salah satu penduduk asli Ratenggaro

Setelah matahari agak condong sedikit ke Barat, saya melanjutkan beach hopping ke Pantai Pero yang lebih ramai dan populer untuk masyarakat lokal. Disini, ada satu hal seru yang saya lakukan: disembur ombak di depan batu lobang! Seru abis! Saya hanya perlu duduk atau berdiri di dekat lobang tersebut yang posisinya tidak jauh dari batas pantai, kemudian menunggu ombak datang. Then bzzztttt, feel the water pressure!

Having fun di Pantai Pero!

Having fun di Pantai Pero!

Tujuan terakhir di hari kedua adalah mengunjungi Danau Weerkuri dan Pantai Mandorak yang letaknya berdekatan. Danau Weerkuri ini sebenarnya bukan a real lake. Weerkuri berbatasan langsung dengan laut lepas dan hanya dipisahkan oleh batu tebing besar yang memiliki beberapa cela sehingga air laut masuk ke dalam dan membentuk semacam danau. Jadi, airnya juga adalah air laut. Namun karena dikelilingi oleh tebing batu, membuat air begitu tenang dan nyaman untuk direnangi.

Danau Weekuri, Sumba Barat Daya

Danau Weekuri, Sumba Barat Daya

Setelah puas berenang di Weerkuri, saya akhirnya sampai ke destinasi terakhir saya di hari kedua ini: Pantai Mandorak untuk sunset hunting. Dan oh God, this place has amazing sunset! Wajib banget untuk menyempatkan diri melihat sunset disini dengan warnanya yang begitu beragam dan bentuk pantai berpasir putih halus yang cukup unik karena ditutupi batu-batu tinggi yang tajam dengan sedikit cela yang membuat air laut masuk.

Sunset di Pantai Mandorak

Sunset di Pantai Mandorak

Hari Ketiga: Pantai Kerewei, Pantai Tarimbang, Peter’s Magic Resort

Sebelum berpindah ke Sumba Timur, saya sempatkan seharian ini untuk mengunjungi beberapa pantai di Sumba Barat dan Pantai Tarimbang di selatan pulau Sumba yang sudah sangat terkenal di kalangan surfer dunia. Tujuan pertama pagi itu adalah Pantai Kerewei Sumba Barat yang berjarak sekitar 1.5 jam dari pusat kabupaten Sumba Barat Daya. Kerewei ini adalah salah satu destinasi piknik favorit juga untuk para masyarakat lokal di akhir minggu.

Pantai Kerewei, Sumba Barat

Pantai Kerewei, Sumba Barat

Satu tips dari saya adalah jika kesini, jangan lupa sempatkan melakukan soft-trekking di jalur yang terdapat pada ujung kanan pantai untuk melihat sisi pantai lainnya yang tertutup bukit. It’s spectacular.

Sisi lain dari Pantai Kerewei

Sisi lain dari Pantai Kerewei

Karena mengejar waktu, saya tidak bisa lama-lama mengeksplor Sumba Barat. Padahal masih begitu banyak pantai-pantai yang juga tidak kalah luar biasa di sisi barat ini. Maybe next time!

Dedi, kapten dari mobil yang saya sewa, memacu kendaraan untuk meninggalkan area barat Sumba dan menuju ke Tarimbang, yang berada ditengah-tengah antara Sumba Barat dan Timur. Bukan perjalanan yang gampang dan pendek memang, apalagi dengan kondisi jalan yang belum begitu bagus. Kami menghabiskan hampir 6 jam hingga akhirnya tiba di Pantai Tarimbang pada sekitar pukul 16.30. Ketika sampai disini, saya lumayan terkaget-kaget, karena walaupun berada di pelosok pulau banget dan saya yakin sekali masih banyak orang Indonesia yang belum tau tempat ini, cukup banyak bule yang sedang surfing. Mengobrol sebentar dengan para surfer yang sedang istirahat, saya jadi tau kalo ternyata ombak di Tarimbang adalah salah satu yang terbaik yang pernah mereka coba. Rata-rata yang kesini adalah surfers dari Australia dan Eropa.

Pantai Tarimbang dengan pasir putihnya

Pantai Tarimbang dengan pasir putihnya

Pantai Tarimbang, tongkrongan surfers dunia

Pantai Tarimbang, tongkrongan surfers dunia

Hari sudah gelap ketika akhirnya saya menuju Peter’s Magic Paradise Tarimbang, tempat saya akan bermalam. Peter’s Magic Paradise, adalah resort sederhana yang dimiliki oleh seorang mantan pesulap bernama Peter (berkebangsaan Jerman) dan Yosni (orang asli Sumba) yang terletak di puncak tebing sebelum sampai ke pantai Tarimbang. View dari resort memang yang membuatnya spesial, karena bisa melihat langsung pantai Tarimbang dari ketinggian.

View dari jendera kamar Peter’s Magic Paradise

Harga per bungalow untuk menginap disini mulai dari Rp. 750.000 per malam termasuk sarapan, makan siang dan makan malam. Untuk booking bisa langsung ke: 081246734246. Resort ini juga dilengkapi dengan kolam renang. Kamarnya memang sederhana, tapi pemandangan keluar jendela tidak akan membuat bosan. Menyenangkan!

Peter's Magic Paradise, Tarimbang

Peter’s Magic Paradise, Tarimbang

peter

Kamar dan toilet dari bungalow Peter’s Magic Paradise

Tiga hari pertama perjalanan mengeksplor Sumba, membuat saya begitu amaze dan speechless dengan keindahan alamnya. Baru 3 hari pertama padahal. Sebuah perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup. Saran dari saya, jika kalian hanya memiliki 3-4 hari untuk mengeksplor Sumba, habiskan di Sumba Barat Daya dan jika sempat, Sumba Barat.

Lalu bagaimana itinerary saya untuk 3 hari selanjutnya? Hari-hari berikutnya saya habiskan untuk mengeksplor Sumba Timur: Bukit Wairinding, kampung adat Rende dengan tenun khasnya, Bukit Persaudaraan dengan sunset yang (oh my God) luar biasa dan Pantai Walakiri dengan mangroove yang imut. Selengkapnya, tunggu di postingan selanjutnya yaa.

Terima kasih untuk Kementerian Pariwisata Indonesia dan Google Indonesia yang telah mewujudkan impian saya mengeksplor Sumba. Memang benar, Indonesia has so much to offer, not just Bali. Lihat juga photo stories perjalanan Sumba saya yang dirangkai oleh Google+ disini.

Advertisements

Posted by

A nyong Maluku. I've visited 34 provinces in Indonesia. And it is amazing. See the beauty of Indonesia on my instagram page. Full time social ninja at @wego.

20 Comments Join the Conversation

  1. Nama Pantai Kami Pantai Mananga Aba bukan Pantai Kita. Mohon para penulis untuk menghargai kearifan lokal

  2. Baru balik dari Sumba Barat trip, overall Januari bukan waktu yang bagus untuk ke tempat ini dan driver yang kita gunakan agak males2an orangnya. Dia ga mau nganter ke banyak tempat dalam waktu sehari huhu kesel. Tapi masih pengen mengunjungi Sumba Timur suatu nanti di musim yang sama kaya Mat!

    PS: Nama bapak di header blog kamu ini Thomas, aku beli gitar yang dia pegang anyway hahaha.

    Thanks Mad!

  3. keren banget. saya terinspirasi ke sumba, mhn referensi no kontak DEDI (driver guide).

  4. hai salam kenal. bikin mupeng bgt perjalanannya, jd pengen kesana. part 2 nya blm di post ya? penasaran bgt pengen baca kelanjutannya ^^

  5. Mau tanya kontak person buat menginap di pusat kebudayaan sumba donk kakak

  6. Halo boleh tanya ga contact driver nya buat disana ? Tks

  7. Hello,
    Sangat menyenangkan baca blog kamu. Saya dan teman2 ada rencana ke sumba di bulan Mei 2016. Bisa minta nmr pak dedi? Karna saya pikir akan lbh asik kalo explore sumba dgn orang yg sudah berpengalaman dibanding dgn travel yg biayanya mungkin jauh lbh mahal dgn lbh sedikit tempat kunjungan.
    Please email me untuk nmr pak dedi. Thanks. Much appreciate it 🙂

  8. Hi Mad, boleh minta no nya Pak Dedi, saya rencana pergi tanggal 9 Maret – 13 Maret..

  9. hi, where is part 2? anyway good post and thanks for places recommendations now i get lil bit picture of sumba.
    will be there on 5-8 may 2016, would love if you can share some of local contacts and such.
    thanks!!! keep it up!

  10. hai,

    boleh minta nomor kontak penginapan di waikabubak dan nomor kontak driver nya?

    thank you

  11. hai… menarik sekali blognya, bisa minta nomor pak dedi untuk guide dan driver di sumba? terimakasih sebelumnya

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s